Semua Butuh Proses

pisang-banana

Saya teringat dulu pernah sangat kesal sekali ketika dikritik seseorang dengan kritikan yang pedas. Bahkan sampai menangis saking kesalnya pada kritikan yang kurang lebih bernada nge-judge itu. Masih teringat betul bagaimana rasanya ketika itu benar-benar sakiiit hati, semangat untuk menjadi lebih baik menurun drastis. “Ih..kenapa siyh ni orang!! Loh kok.. dia begitu juteknya??kalau dia udah baik ngapain juga kata-katanya mesti nyakitin orang lain” “Belagu banget siyh jadi kodok!” “dia segitunya saya salah apa! “kejam benerr tuh mulut, apakah dia merasa sudah lebih baik?” Apakah dia tak tau bahwa saya masih dalam proses belajar?ga bisa ya ngomong dan kritiknya pake bahasa yang lebih sopan dan halus?? emangnya saya malaikat bener melulu g bisa salah! kalau jadi saya emangnya dia bisa secepat itu berubah jadi lebih baik? g butuh proses gitu? taukah dia bahwa proses belajar itu butuh waktu dan kesabaran panjang??  memangnya gampang apah menerima komposisi cara berfikir “baru” yang dia suapkan? Dasarrr!!!” itulah..mungkin segelintir kalimat yang menggantung dihati kita, menimbulkan sebuah perasaan yang sungguh tidak enak. Ibarat kompor, semua pikiran-pikiran yang  bergelantungan seolah semakin menghangatkan luka hingga melepuh. Andai diperturutkan bisa saja saya meledak seperti Bom Hirosima dan Nagasaki. ah setidaknya kayak  Bom Bali atau paling kurang kayak BOM masyarakat ala gas epliji 3 kiloan.

Yups… hal terbaik yang bisa saya lakukan adalah cepat-cepat beristigfar.. mengadukan pada Allah, dan lalu berkhuznudzon… “Mungkin memang saya SAJA yang terlalu sensitif, “Ah, orang itu cuma berniat baik kok.” “Ah..karna dia sayang dia mau kritik begitu, kalo g dicuekin aja kali..”Ah.. yang dia bilang adalah bentuk nasihat tanda kasih sayang saudara seiman” atau hal-hal lain. Berkhuznudzon amat membantu sekali  dalam memerangi penyakit hati dan proses penyembuhan luka bacok akibat “kata” baik dikonsumsi untuk proses evaluasi diri dan sebuah obat yang manjur dan murah dibandingkan obat generik.

Dari pengalaman-pengalaman tersebut.. saya mulai membiasakan diri, memasang standar dari bahasa dan laku saya dalam  berbagai hal, termasuk dalam mengkritik atau menasihati seseorang. Karna kata itu lebih tajam dari pisau. Banyak orang yang katanya “Minta kripik pedes” itu cuma  dibibir, toh  siap juga siyh yang mau dipedes-pedesin? pedes sambel mah enak bikin lahap? pedes laku dan bahasa?? yang ada malah bikin kalap.

Sebagai bahan renungan sedikit bagi kita yang doyan ngritik, yang pengen mengkritik sebagai wujud kasih sayang,  pembalasan, kebelaguan atau yang merasa kurang nyaman dengan sesuatu keadaan dan  ingin mencoba memberi wejangan (wejang jahe)..

Sedikit masukan sebelum mengkritik.

Baca dan cerna dulu berkali-kali hal-hal yang ngerasa ngeganjel dan perlu di kritik itu. Kadang-kadang, apa yang kita perkirakan belum tentu sejelek kenyataan.

Kedua sebelum mengkritik tanyakan dulu, baik-baik maksud seungguhnya

Ketiga jika seseorang bener-bener pantas untuk di kritisi  maka benarkanlah  dan beritahulah dengan cara yang benar pula…

Pakailah bahasa yang santun dan halus. G akan ada ruginya kok berhalus-halus kata dan bersantun-santun ria. Bukankah Rasullullah tidak pernah mengajarkan kita bersikap kasar dan menyakiti? bukankah Rasulullah sebagai suri tauladan bagi kita adalah seseorang yang sangat halus dan santun bahasa serta sikapnya?

Sikap yang baik, serta  laku yang halus itu akan menunjukkan siapa kita. Yang halus seperti ini saja, belum tentu setiap hati mampu menerimanya, apalagi yang tidak ??? Jangan sampai  nasihatmu menjadi badai salju yang justru malah semakin  membekukan hati orang tersebut. Jika itu terjadi bukannya tak mungkin lain kali dia tidak akan mau mendengar dan tidak mempedulikan nasihatmu hingga dia tak mampu lagi melihat yang benar dan yang salah.Padahal bisa saja orang yang sedang kamu kritik sedang mengalami masa pancaroba mecari kebenaran.

Jadikanlah lisan seperti air sejuk..seperti oase  seperti tetesan pelapuk batu.

Cobalah kita belajar dari setandan pisang
Dalam satu tandan pisang, tak semua buahnya matang secara serentak. Ada diantaranya yang masih berwarna hijau tua. Apa yang dilakukan petani padanya yang masih muda? Dia tidak banyak kata, cukup dengan menyimpannya kembali menunggu hingga matang semua.

Pisang yang telah matang dan pisang yang terlambat matang, bukankah rasanya tetap sama? sama-sama berasa pisang, bukan pisang rasa troberi atau pisang rasa coklat (itu mah udah rekayasa euy..!) Begitu juga kita.
Tak mungkin semuanya sama. Ada kalanya menurut ukuran kita, suatu hal yang menyangkut kebenaran terasa gampang untuk dirubah. Adakalanya menurut kita suatu  masalah dapat diselesaikan hanya dengan beberapa menit saja. Tapi bagi orang lain belum tentu. Dan ada kalanya pula, kita mengkritik tapi hal yang kita kritisi salah “pula” ckckck
Coba dengar…
Dia manusia biasa yang tak akan sempurna dia butuh waktu dan berproses menyelesaikannya. Kritiklah dengan cara yang santun, kalimat yang baik.
Diterima atau tidak do’akanlah dia agar mampu memahamkan dirinya jika dia salah. Do’akanlah dia dalam diam, agar selalu dalam bimbingan Allah sebagai dzat yang menaungi. Siapakah kita yang sudah merasa benar dalam menasihati itu?? mampukah kau membawakan hidayah tanpa izinnya??Hidayah itu hanya milik Allah
Pada akhirnya jika telah dipahamkan, dirimu dan dirinya nanti akan memperoleh kebenaran yang sama. bahkan mungkin bisa lebih baik dari kita. Dalam hidup ini tak seorang pun sempurna pada bingkai kemampuannya. Karena di antara kita memang tidak sama dan serupa, kita dilahirkan berbeda, hidup di lingkungan berbeda, pada kondisi yang berbeda dan segala hal yang berbeda.
Yang mesti diingat adalah bahwa setiap orang memiliki kesamaan keinginan dan memiliki hak yang sama dalam mendapat kesempatan, betapapun itu harus dipergilirkan dalam keadaan yang beragam.
Karenanya, percuma saja memperdebatkan suatu ketidak samaan, perbedaan, dan ketidak cocokan dengan orang lain, karena kita tak akan mendapat titik temu. Sungguh tak ada yang sempurna di antara kita,
Untuk yang sedang sakit hatinya oleh sebuah kritikan.
Coba juga dengarkan ini.. janganlah kita memperturutkan hati hawa dan nafsu bila yang dinasihatinya memanglah sebuah kebenaran..
Berkhuznudzonlah, dan nikmati sebuah “masukan” sebagai sebuah penambahan. Jangan rendah diri, jangan berkecil hati,jangan patah arang. Didunia ini kita sama-sama dalam pencarian, yang namanya mencari engkau pastilah butuh petunjuk dan ditunjukkan. Karna bila tidak minta petunjuk dan ditunjukkan. Hati kita akan serupa karang, pencarian kita tak ubahnya seperti jalan-jalan yang tanpa tujuan (pemulung dijalan aja punya tujuan coba..)
Berbesar hatilah..berbenahlah… dia yang sedang mencela kekurangan dan ketidak tahuanmu, menjudge mu sesungguhnya adalah orang yang tak ingin kamu dalam lingkaran kesalahan, maka ditunjukinya jalan. Dia adalah orang yang selalu memikirkan dan memperhatikan mu, maka diberinya kritikan. Dia adalah orang baik yang penuh kasih sayang kepadamu dia adalah orang yang paling “MENCITAIMU” karna dia tak ingin engkau larut dalam kesalahan. Dia meraih mu dari jurang kehancuran.. Do’akanlah dia agar lebih baik lagi sebagai saudara seiman. Kita semua sama-sama berproses panjang untuk menjadi lebih baik
Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s