Bocah Laki-laki Sembilan Ribuan

Oleh : Anna Ummu Almira

Suasana Gedung Olahraga pagi itu sudah cukup ramai. Berbagai aktifitas di Pagi Minggu dilakukan, ada yang sedang pemanasan, ada yang bersepeda, ada yang sedang joging, sekedar berjalan santai bahkan ada yang hanya duduk-duduk sambil ngobrol dibawah rimbunan pohon menikmati aneka jajanan. Dengan hati riang seorang fulanah sibuk menggelar dagangannya. Dia menyusun dagangannya begitu apik . Sambil berdo’an dan berharap agar dagangannya hari ini laris manis.

Semakin pagi udara yang tadinya sejuk semakin terasa gerah dan  panas. Mungkin karena Semakin pagi semakin ramai pengunjung yang datang.  Dari tadi belum ada satupun dagangan yang laku, semangat Fulanah mulai kendur. Padahal dia sudah berusaha keras untuk menarik perhatian orang-orang yang lewat agar membeli , sayang yang datang hanya sekedar melihat-lihat dagangannya saja. Sementara dikanan kirinya semua pedagang tengah sibuk meladeni pembeLihat tulisanli yang bertumpuk-tumpuk.

Perut Fulanah mulai terasa perih mencium beraneka aroma yang menggoda disekelilingnya.  Teringat sebelum berangkat tadi dia belum sempat sarapan. Fulanah melirik satu persatu gerobak-gerobak makanan itu. Aroma dari gerobak sandwich dan nasi goreng begitu menggoda sementara diseberang sana spanduk bergambarkan sepiring bubur ayam ramai dikunjungi pembeli begitu juga penjual bakso bakar, kentang ngebor, gorengan, sate,roti bakar, lontong gulai, lopis ahh.. semua begitu menggoda. Fulanah meraba dompet, hanya tinggal selembar sepuluh ribuan disana. Dia taksir harga makanan-makanan itu akan menghabiskan lebih dari separuh uangnya. Bagaimana nanti bila dagangannya tak ada yang laku? Bagaimana caranya dia pulang? Dia tidak memiliki kendaraan pribadi, hanya angkutan umumlah satu-satunya alat transportasi andalan si Fulanah.

Dalam hatinya fulanah sedikit menyesali diri “Ahh… kenapa dari dulu dia tidak berdagang makanan saja seperti yang lain? Lihatlah tak ada pedagang makanan yang tidak didatangi pelanggan. Bukankah hasil masakannya juga tak kalah enak? Ahh.. andaikan dia berjualan makanan, paling tidak saat lapar dan dahaga begini dia bisa mengganjal perut barang sepiring saja.” Sebenarnya dalam hati fulanah menyadari dia tidak boleh menyerah, tapi semangat dan kesabaran itu memang sudah betul-betul mengendur karna lelah dan rasa lapar. Dia melihat rezki begitu bertebaran dikanan kiri, namun belum satu pun yang datang menghampiri dirinya.

Fulanah menepis rasa lapar itu dengan menelan air ludah dan beralih merapikan dagangannya kembali. Fulanah memperhatikan dari tadi ada seorang bocah laki-laki yang berkali-kali lewat didepan meja dagangannya. “Hanya lewat” pikir fulanah. Tapi lama kelamaan Fulanah melihat bahwa si bocah laki-laki itu seperti tertarik pada dagangannya Cuma mungkin bocah itu malu.

“Adek.. mau lihat-lihat? Ayo sini .. sini “ tawar Fulanah Ramah. Si bocah laki- laki kaget dan mematung, tapi akhirnya dengan langkah ragu-ragu dan malu  dia  mendekat.

Fulanah tersenyum, “Namanya siapa?’’

“Naufal”

“Oo.. Naufal,  Naufal kelas berapa?’’

“kelas satu”

“Naufal sekolahnya dimana?”

“Di SD Syala”

“Sama siapa kesini?”

“Sediri” jawabnya bangga

“Hah sendiri??” Fulanah tercengang

“Ia rumah Naufal dekat. Disana..” katanya sambil menunjuk kerarah sebuah kompleks perumahan.

“Oo.. Naufal mau lihat-lihat jualan kakak ya dari tadi?”

Sibocah mengangguk malu-malu.

“Mau beli apa Naufal?”

Bocah itu tidak menjawab, matanya takjub mengamati satu persatu dagangan fulanah

“Ini apa namanya kak?“ bocah laki-laki bergigi ompong itu menunjuk deretan bros bunga dari kalin flannel yang lucu-lucu.

“Ini namanya Bros”

“Untuk apa?”

“Untuk hiasan perempuan. Bisa dipasang dibaju, bisa di jilbab. “

Bocah kecil bernama Naufal itu terlihat bingung

“Gimana makainya?”

Fulanah lalu mengambil satu buah bros dan memperagakan cara memakainya

“Ini di belakangnya ada jarum.. nah terus ditusuk kebaju atau jilbab trus di tautkan begini, Nah..”

fulanah memperliatkan bros yang telah terapasang rapi di jilbab lebararnya sambil tersenyum pada si bocah

“Tara….Cantikan?” kata Fulanah riang.  Naufal hanya nyengir sedikit, kelihatannya dia tidak begitu tertarik.  Mata besar itu sekarang sudah beralih menjejali tumpukan bando-bando yang lucu.

“Ini kak?”

“oh ini bando.”

“Buat dirambut perempuan kan? Buat anak kecil bisa?”

“Ia, Bisa”

Mata bocah lelaki itu berbinar. Pedagang lain disamping Fulanah yang sedari tadi gemes mengamati tingkah sang bocah tiba-tiba nyeletuk

“Ee..ee..ee..ee…Anak laki-laki kok Beli bando? Haaa… untuk siapa tu.. Untuk ceweknya yaaa..”  Tanyanya menggoda Naufal.

Tapi sang bocah, tiba-tiba saja menjadi begitu marah

“Bukann!! Ini untuk adek Naufal ni!” Katanya sambil merengut menunjukkan ekspresi tidak suka.

Fulanah memahami kemarahan sibocah laki-laki. Bagi fulanah, memang bercandaan pedagang disebelahnya cukup keterlaluan untuk anak sekecil Noufal. Bocah selugu ini sudah barang pasti belum mengerti benar apa itu “pacar” dia masih terlalu bersih untuk turut memikirkan hal-hal mudarad dari istilah  itu sendiri.  Apalagi canda yang bernada menuduh itu jelas-jelas tidak benar. Toh ternyata Naufal berniat membeli untuk adiknya.

”Aahh.. tantenya Cuma bercanda  tu Naufal, ia kan tante..?”

Fulanah mencoba membujuk kemarahan si bocah. Sambil melirik pedagang itu Pedagang yang tadinya masih terus ingin menjahili jadi urung .“Ia.. tante bercanda” ujarnya membenarkan sambil tersenyum dan tak lagi memperhatikan.

Si Naufal masih saja merengut sambil mengoyang-goyangkan badan bulatnya kiri kanan. Bukannya jadi seram justru tingkahnya itu semakin menambah kelucuan khas anak-anak.

“Sinilah.. Naufal mau beli buat adek kan? Yuk, sini yuk pilih-pilih..Naufal mau yang  mana?”

Fulanah menyongsong sang bocaah dan menuntunnya agar lebih mendekat kepada bando-bando itu. Noufal Nampak bingung memilih “Mana yang cantik kak?Harganya berapa kak?” tanyanya beruntun

“Semuanya cantik, Cuma enam ribu” fulanah tersenyum sambil memperlihatkan enam jari tangannya. Mata besar Naufal menerawang ke atas langit sambil komat kamit. Entahlah apa yang dipikirkannya.

“Kalau dua berarti dua belas ribu ya kak?”

Rupanya sedari tadi dia sedang menghitung-hitung fulanah tersenyum senang.

“Pinter” fulanah menjawil hidung sang bocah senang.

Naufal mengeluarkan sebuah dompet lusuh berisi pecahan uang koin dan seribuan lalu menyerahkannya pada fulanah

“Kak uang ini jajan Naufal Seminggu sembilan ribu”

Fulanah terbengong,  cepat dia menghitung uang tersebut benar ada sembilan ribu didalamnya.

“Ini cukup kok buat beli bandonya, malah uangnya Naufal sisa tiga ribu.” Fulanagh menjelaskan, takut kalau-kalau si bocah itu tidak terlalu pandai dalam menghitung uang.

“Tapi Naufal mau beli dua kak.”

“Tapi uangnya kurang tiga ribu dek, Hari minggu satunya lagi kan masih bisa beli kesini lagi. InsyaAllah kakak masih jualan kok.” Bujuk Fulanah pada Naufal.

“Tapi adek perempuan Naufal dua kak. Kalau cuma satu nanti yang satunya lagi  sedih karna cemburu. Itukan berarti Naufal ga adil. Naufal mau jadi abang yang adil.”

Bocah itu terus bercerita, fulanah sungguh terharu mendengar kejujuran dan kepolosan sang Naufal. Dari cerita Naufal barulah fulanah tau kenapa tadi dia tidak jadi mebeli bros, padahal harga bros itu jauh lebih murah dari bando. Peniti dari bros itu terlalu tajam dan berbahaya untuk kedua adiknya yang masih kecil. Dari dia sudah berkeliling-keliling arena GOR untuk membeli sesuatu yang  aman dan menarik untuk dibawa pulang dan dihadiahkan kepada kedua adik perempuannya. Dia melihat aneka pilihan makanan, tapi dia bimbang mempertimbangkan keamanan untuk adiknya. Naufal ingat pesan sang mama “Jangan yang pedas,dingin, banyak penyedap atau yang manis nanti gigi adek yang baru tumbuh cepat ompong kayak abang.” Tadi dia sempat melihat  boneka dan mainan yang lucu-lucu tapi uangnya tidak cukup.

Biasanya Naufal kesini bersama kedua orang tua dan adik-adiknya. Dia melihat sang ayah atau ibu, sering membelikan sesuatu untuk mereka. Sehingga terbersitlah sebuah keinginannya  sebagai seorang “abang” didalam diri seorang Naufal. Diaq ingin memberikan pula sesuatu yang berharga dari jerih payahnya mengumpulkan uang jajan tapi  sesuatu itu dengan mempertimbangkan faktor keamanan adik-adiknya. Sekecil itu dia sudah merasa harus bertanggung jawab melindungi kedua adiknya tercinta. Sehingga dia berusaha membelikan sesuatu yang dia mampu, sesuatu yang harus “aman” sesuatu yang harus “adil”. Walau dengan resiko harus pergi sendirian ke GOR. Ayahnya sedang pergi keluar kota semnetara sang Ibu sedang kerepotan mengurus dua orang balita dirumah.

Memang kompleks rumahnya cukup dekat, tapi terlalu berat dilalui seorang anak kelas satu SD. Bocah kecil ini telah mengurangi jajanannya dan menyisihkan uang tersebut selama seminggu. Sebenarnya dari tadi dia sudah ingin membeli tetapi “malu” karena dagangan yang dijual fulanah memang berisi barang-barang khusus perempuan. MasyaAllah.. si fulanah benar-benar tersentil oleh bocah laki-laki itu. Bocah sekecil dia saja bisa begitu sabar menahan diri selama satu minggu mnegurangi jajan. Mampu berkorban berlapar-laparhanya untuk mengmpulkan uang. pastilah mengurangi jajan bukan sesuatu hal yang mudah bagi anak bertubuh sebulat dia.

Sungguh hebat orang tua yang telah mendidik anak laki-laki in pikir fulanah, sedari kecil mereka telah mampu menanamkan sifat kepemimpinan dalam jiwanya. Seorang pemimpin tentu saja akan berlaku “adil” dan mampu “melindungi” meskipun untuk sebuah pemberian kecil seharga enam ribu ini. Subhanallah…

“Ya Allah.. Apa yang sudah ku lakukan..? sepagi ini aku telah kehilangan sebuah “kesabaran” hanya Karena rasa lapar yang menderaku. Astagfirullah Hal’adzim..” fulanah membatin. Bukankah selama ini dia meyakini Bahwa Allah telah mengatur rezki bagi setiap hambanya. Kenapa dia bisa lupa hanya karena lapar dan kehilangan semangat?? Harusnya tadi dia berucap “Alhamdulillah ‘Ala Kulli Hal” segala yang dialaminya sesungguhnya belumlah seberapa, dan sungguh  yang terjadi ini baik untuk dirinya. Fulanah merasa sangat malu pada bocah laki-laki Sembilan ribuan ini.

Fulanah segera saja meminta Naufal memilih dua buah bando yang diinginkannya tanpa menuntut lagi kekurangan uang. Sang bocah dengan senang hati memilih dua buah bando berwarna pink. Fulanah segera membungkus bando-bando berpita cantik itu kedalam kantung plastik berwarna senada. Sang bocah girang tak terkira, berkali-kali dia mengucapkan terimakasih

“Makasi kakak.. padahal uang Noufal tidak cukup cuma sembilan ribu.” Katanya lagi.

Disudut mata fulanah ada segaris air yang siap meleleh. Fulanah mengacak-acak rambut sang bocah, dia tak mampu lagi berkata saking harunya. Memang dia sedang merugi beberapa ribuan tapi apa yang telah diajarkan Naufal tidak lebih berharga dari kerugian yang dia tanggung. Fulanah merasa tidak lebih baik dari Naufal yang telah melembutkan hatinya kembali atas izin Allah Azza Wa Jall, bocah inilah yang dengan kesatria telah membangunkannya dari segala prasangka-prasangka buruknya pada Allah.

Fulanah benar-benar menyesal, “Maafkan hambaMu ini Ya Allah..” dia terus mengusap tetes demi tetes air dari matanya sambil  menyongsong kepergian sang bocah pulang rumah.

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s