Bocah Laki-laki Sembilan Ribuan

Oleh : Anna Ummu Almira

Suasana Gedung Olahraga pagi itu sudah cukup ramai. Berbagai aktifitas di Pagi Minggu dilakukan, ada yang sedang pemanasan, ada yang bersepeda, ada yang sedang joging, sekedar berjalan santai bahkan ada yang hanya duduk-duduk sambil ngobrol dibawah rimbunan pohon menikmati aneka jajanan. Dengan hati riang seorang fulanah sibuk menggelar dagangannya. Dia menyusun dagangannya begitu apik . Sambil berdo’an dan berharap agar dagangannya hari ini laris manis.

Semakin pagi udara yang tadinya sejuk semakin terasa gerah dan  panas. Mungkin karena Semakin pagi semakin ramai pengunjung yang datang.  Dari tadi belum ada satupun dagangan yang laku, semangat Fulanah mulai kendur. Padahal dia sudah berusaha keras untuk menarik perhatian orang-orang yang lewat agar membeli , sayang yang datang hanya sekedar melihat-lihat dagangannya saja. Sementara dikanan kirinya semua pedagang tengah sibuk meladeni pembeLihat tulisanli yang bertumpuk-tumpuk.

Perut Fulanah mulai terasa perih mencium beraneka aroma yang menggoda disekelilingnya.  Teringat sebelum berangkat tadi dia belum sempat sarapan. Fulanah melirik satu persatu gerobak-gerobak makanan itu. Aroma dari gerobak sandwich dan nasi goreng begitu menggoda sementara diseberang sana spanduk bergambarkan sepiring bubur ayam ramai dikunjungi pembeli begitu juga penjual bakso bakar, kentang ngebor, gorengan, sate,roti bakar, lontong gulai, lopis ahh.. semua begitu menggoda. Fulanah meraba dompet, hanya tinggal selembar sepuluh ribuan disana. Dia taksir harga makanan-makanan itu akan menghabiskan lebih dari separuh uangnya. Bagaimana nanti bila dagangannya tak ada yang laku? Bagaimana caranya dia pulang? Dia tidak memiliki kendaraan pribadi, hanya angkutan umumlah satu-satunya alat transportasi andalan si Fulanah.

Dalam hatinya fulanah sedikit menyesali diri “Ahh… kenapa dari dulu dia tidak berdagang makanan saja seperti yang lain? Lihatlah tak ada pedagang makanan yang tidak didatangi pelanggan. Bukankah hasil masakannya juga tak kalah enak? Ahh.. andaikan dia berjualan makanan, paling tidak saat lapar dan dahaga begini dia bisa mengganjal perut barang sepiring saja.” Sebenarnya dalam hati fulanah menyadari dia tidak boleh menyerah, tapi semangat dan kesabaran itu memang sudah betul-betul mengendur karna lelah dan rasa lapar. Dia melihat rezki begitu bertebaran dikanan kiri, namun belum satu pun yang datang menghampiri dirinya.

Fulanah menepis rasa lapar itu dengan menelan air ludah dan beralih merapikan dagangannya kembali. Fulanah memperhatikan dari tadi ada seorang bocah laki-laki yang berkali-kali lewat didepan meja dagangannya. “Hanya lewat” pikir fulanah. Tapi lama kelamaan Fulanah melihat bahwa si bocah laki-laki itu seperti tertarik pada dagangannya Cuma mungkin bocah itu malu.

“Adek.. mau lihat-lihat? Ayo sini .. sini “ tawar Fulanah Ramah. Si bocah laki- laki kaget dan mematung, tapi akhirnya dengan langkah ragu-ragu dan malu  dia  mendekat.

Fulanah tersenyum, “Namanya siapa?’’

“Naufal”

“Oo.. Naufal,  Naufal kelas berapa?’’

“kelas satu”

“Naufal sekolahnya dimana?”

“Di SD Syala”

“Sama siapa kesini?”

“Sediri” jawabnya bangga

“Hah sendiri??” Fulanah tercengang

“Ia rumah Naufal dekat. Disana..” katanya sambil menunjuk kerarah sebuah kompleks perumahan.

“Oo.. Naufal mau lihat-lihat jualan kakak ya dari tadi?”

Sibocah mengangguk malu-malu.

“Mau beli apa Naufal?”

Bocah itu tidak menjawab, matanya takjub mengamati satu persatu dagangan fulanah

“Ini apa namanya kak?“ bocah laki-laki bergigi ompong itu menunjuk deretan bros bunga dari kalin flannel yang lucu-lucu.

“Ini namanya Bros”

“Untuk apa?”

“Untuk hiasan perempuan. Bisa dipasang dibaju, bisa di jilbab. “

Bocah kecil bernama Naufal itu terlihat bingung

“Gimana makainya?”

Fulanah lalu mengambil satu buah bros dan memperagakan cara memakainya

“Ini di belakangnya ada jarum.. nah terus ditusuk kebaju atau jilbab trus di tautkan begini, Nah..”

fulanah memperliatkan bros yang telah terapasang rapi di jilbab lebararnya sambil tersenyum pada si bocah

“Tara….Cantikan?” kata Fulanah riang.  Naufal hanya nyengir sedikit, kelihatannya dia tidak begitu tertarik.  Mata besar itu sekarang sudah beralih menjejali tumpukan bando-bando yang lucu.

“Ini kak?”

“oh ini bando.”

“Buat dirambut perempuan kan? Buat anak kecil bisa?”

“Ia, Bisa”

Mata bocah lelaki itu berbinar. Pedagang lain disamping Fulanah yang sedari tadi gemes mengamati tingkah sang bocah tiba-tiba nyeletuk

“Ee..ee..ee..ee…Anak laki-laki kok Beli bando? Haaa… untuk siapa tu.. Untuk ceweknya yaaa..”  Tanyanya menggoda Naufal.

Tapi sang bocah, tiba-tiba saja menjadi begitu marah

“Bukann!! Ini untuk adek Naufal ni!” Katanya sambil merengut menunjukkan ekspresi tidak suka.

Fulanah memahami kemarahan sibocah laki-laki. Bagi fulanah, memang bercandaan pedagang disebelahnya cukup keterlaluan untuk anak sekecil Noufal. Bocah selugu ini sudah barang pasti belum mengerti benar apa itu “pacar” dia masih terlalu bersih untuk turut memikirkan hal-hal mudarad dari istilah  itu sendiri.  Apalagi canda yang bernada menuduh itu jelas-jelas tidak benar. Toh ternyata Naufal berniat membeli untuk adiknya.

”Aahh.. tantenya Cuma bercanda  tu Naufal, ia kan tante..?”

Fulanah mencoba membujuk kemarahan si bocah. Sambil melirik pedagang itu Pedagang yang tadinya masih terus ingin menjahili jadi urung .“Ia.. tante bercanda” ujarnya membenarkan sambil tersenyum dan tak lagi memperhatikan.

Si Naufal masih saja merengut sambil mengoyang-goyangkan badan bulatnya kiri kanan. Bukannya jadi seram justru tingkahnya itu semakin menambah kelucuan khas anak-anak.

“Sinilah.. Naufal mau beli buat adek kan? Yuk, sini yuk pilih-pilih..Naufal mau yang  mana?”

Fulanah menyongsong sang bocaah dan menuntunnya agar lebih mendekat kepada bando-bando itu. Noufal Nampak bingung memilih “Mana yang cantik kak?Harganya berapa kak?” tanyanya beruntun

“Semuanya cantik, Cuma enam ribu” fulanah tersenyum sambil memperlihatkan enam jari tangannya. Mata besar Naufal menerawang ke atas langit sambil komat kamit. Entahlah apa yang dipikirkannya.

“Kalau dua berarti dua belas ribu ya kak?”

Rupanya sedari tadi dia sedang menghitung-hitung fulanah tersenyum senang.

“Pinter” fulanah menjawil hidung sang bocah senang.

Naufal mengeluarkan sebuah dompet lusuh berisi pecahan uang koin dan seribuan lalu menyerahkannya pada fulanah

“Kak uang ini jajan Naufal Seminggu sembilan ribu”

Fulanah terbengong,  cepat dia menghitung uang tersebut benar ada sembilan ribu didalamnya.

“Ini cukup kok buat beli bandonya, malah uangnya Naufal sisa tiga ribu.” Fulanagh menjelaskan, takut kalau-kalau si bocah itu tidak terlalu pandai dalam menghitung uang.

“Tapi Naufal mau beli dua kak.”

“Tapi uangnya kurang tiga ribu dek, Hari minggu satunya lagi kan masih bisa beli kesini lagi. InsyaAllah kakak masih jualan kok.” Bujuk Fulanah pada Naufal.

“Tapi adek perempuan Naufal dua kak. Kalau cuma satu nanti yang satunya lagi  sedih karna cemburu. Itukan berarti Naufal ga adil. Naufal mau jadi abang yang adil.”

Bocah itu terus bercerita, fulanah sungguh terharu mendengar kejujuran dan kepolosan sang Naufal. Dari cerita Naufal barulah fulanah tau kenapa tadi dia tidak jadi mebeli bros, padahal harga bros itu jauh lebih murah dari bando. Peniti dari bros itu terlalu tajam dan berbahaya untuk kedua adiknya yang masih kecil. Dari dia sudah berkeliling-keliling arena GOR untuk membeli sesuatu yang  aman dan menarik untuk dibawa pulang dan dihadiahkan kepada kedua adik perempuannya. Dia melihat aneka pilihan makanan, tapi dia bimbang mempertimbangkan keamanan untuk adiknya. Naufal ingat pesan sang mama “Jangan yang pedas,dingin, banyak penyedap atau yang manis nanti gigi adek yang baru tumbuh cepat ompong kayak abang.” Tadi dia sempat melihat  boneka dan mainan yang lucu-lucu tapi uangnya tidak cukup.

Biasanya Naufal kesini bersama kedua orang tua dan adik-adiknya. Dia melihat sang ayah atau ibu, sering membelikan sesuatu untuk mereka. Sehingga terbersitlah sebuah keinginannya  sebagai seorang “abang” didalam diri seorang Naufal. Diaq ingin memberikan pula sesuatu yang berharga dari jerih payahnya mengumpulkan uang jajan tapi  sesuatu itu dengan mempertimbangkan faktor keamanan adik-adiknya. Sekecil itu dia sudah merasa harus bertanggung jawab melindungi kedua adiknya tercinta. Sehingga dia berusaha membelikan sesuatu yang dia mampu, sesuatu yang harus “aman” sesuatu yang harus “adil”. Walau dengan resiko harus pergi sendirian ke GOR. Ayahnya sedang pergi keluar kota semnetara sang Ibu sedang kerepotan mengurus dua orang balita dirumah.

Memang kompleks rumahnya cukup dekat, tapi terlalu berat dilalui seorang anak kelas satu SD. Bocah kecil ini telah mengurangi jajanannya dan menyisihkan uang tersebut selama seminggu. Sebenarnya dari tadi dia sudah ingin membeli tetapi “malu” karena dagangan yang dijual fulanah memang berisi barang-barang khusus perempuan. MasyaAllah.. si fulanah benar-benar tersentil oleh bocah laki-laki itu. Bocah sekecil dia saja bisa begitu sabar menahan diri selama satu minggu mnegurangi jajan. Mampu berkorban berlapar-laparhanya untuk mengmpulkan uang. pastilah mengurangi jajan bukan sesuatu hal yang mudah bagi anak bertubuh sebulat dia.

Sungguh hebat orang tua yang telah mendidik anak laki-laki in pikir fulanah, sedari kecil mereka telah mampu menanamkan sifat kepemimpinan dalam jiwanya. Seorang pemimpin tentu saja akan berlaku “adil” dan mampu “melindungi” meskipun untuk sebuah pemberian kecil seharga enam ribu ini. Subhanallah…

“Ya Allah.. Apa yang sudah ku lakukan..? sepagi ini aku telah kehilangan sebuah “kesabaran” hanya Karena rasa lapar yang menderaku. Astagfirullah Hal’adzim..” fulanah membatin. Bukankah selama ini dia meyakini Bahwa Allah telah mengatur rezki bagi setiap hambanya. Kenapa dia bisa lupa hanya karena lapar dan kehilangan semangat?? Harusnya tadi dia berucap “Alhamdulillah ‘Ala Kulli Hal” segala yang dialaminya sesungguhnya belumlah seberapa, dan sungguh  yang terjadi ini baik untuk dirinya. Fulanah merasa sangat malu pada bocah laki-laki Sembilan ribuan ini.

Fulanah segera saja meminta Naufal memilih dua buah bando yang diinginkannya tanpa menuntut lagi kekurangan uang. Sang bocah dengan senang hati memilih dua buah bando berwarna pink. Fulanah segera membungkus bando-bando berpita cantik itu kedalam kantung plastik berwarna senada. Sang bocah girang tak terkira, berkali-kali dia mengucapkan terimakasih

“Makasi kakak.. padahal uang Noufal tidak cukup cuma sembilan ribu.” Katanya lagi.

Disudut mata fulanah ada segaris air yang siap meleleh. Fulanah mengacak-acak rambut sang bocah, dia tak mampu lagi berkata saking harunya. Memang dia sedang merugi beberapa ribuan tapi apa yang telah diajarkan Naufal tidak lebih berharga dari kerugian yang dia tanggung. Fulanah merasa tidak lebih baik dari Naufal yang telah melembutkan hatinya kembali atas izin Allah Azza Wa Jall, bocah inilah yang dengan kesatria telah membangunkannya dari segala prasangka-prasangka buruknya pada Allah.

Fulanah benar-benar menyesal, “Maafkan hambaMu ini Ya Allah..” dia terus mengusap tetes demi tetes air dari matanya sambil  menyongsong kepergian sang bocah pulang rumah.

Iklan

Semua Butuh Proses

pisang-banana

Saya teringat dulu pernah sangat kesal sekali ketika dikritik seseorang dengan kritikan yang pedas. Bahkan sampai menangis saking kesalnya pada kritikan yang kurang lebih bernada nge-judge itu. Masih teringat betul bagaimana rasanya ketika itu benar-benar sakiiit hati, semangat untuk menjadi lebih baik menurun drastis. “Ih..kenapa siyh ni orang!! Loh kok.. dia begitu juteknya??kalau dia udah baik ngapain juga kata-katanya mesti nyakitin orang lain” “Belagu banget siyh jadi kodok!” “dia segitunya saya salah apa! “kejam benerr tuh mulut, apakah dia merasa sudah lebih baik?” Apakah dia tak tau bahwa saya masih dalam proses belajar?ga bisa ya ngomong dan kritiknya pake bahasa yang lebih sopan dan halus?? emangnya saya malaikat bener melulu g bisa salah! kalau jadi saya emangnya dia bisa secepat itu berubah jadi lebih baik? g butuh proses gitu? taukah dia bahwa proses belajar itu butuh waktu dan kesabaran panjang??  memangnya gampang apah menerima komposisi cara berfikir “baru” yang dia suapkan? Dasarrr!!!” itulah..mungkin segelintir kalimat yang menggantung dihati kita, menimbulkan sebuah perasaan yang sungguh tidak enak. Ibarat kompor, semua pikiran-pikiran yang  bergelantungan seolah semakin menghangatkan luka hingga melepuh. Andai diperturutkan bisa saja saya meledak seperti Bom Hirosima dan Nagasaki. ah setidaknya kayak  Bom Bali atau paling kurang kayak BOM masyarakat ala gas epliji 3 kiloan.

Yups… hal terbaik yang bisa saya lakukan adalah cepat-cepat beristigfar.. mengadukan pada Allah, dan lalu berkhuznudzon… “Mungkin memang saya SAJA yang terlalu sensitif, “Ah, orang itu cuma berniat baik kok.” “Ah..karna dia sayang dia mau kritik begitu, kalo g dicuekin aja kali..”Ah.. yang dia bilang adalah bentuk nasihat tanda kasih sayang saudara seiman” atau hal-hal lain. Berkhuznudzon amat membantu sekali  dalam memerangi penyakit hati dan proses penyembuhan luka bacok akibat “kata” baik dikonsumsi untuk proses evaluasi diri dan sebuah obat yang manjur dan murah dibandingkan obat generik.

Dari pengalaman-pengalaman tersebut.. saya mulai membiasakan diri, memasang standar dari bahasa dan laku saya dalam  berbagai hal, termasuk dalam mengkritik atau menasihati seseorang. Karna kata itu lebih tajam dari pisau. Banyak orang yang katanya “Minta kripik pedes” itu cuma  dibibir, toh  siap juga siyh yang mau dipedes-pedesin? pedes sambel mah enak bikin lahap? pedes laku dan bahasa?? yang ada malah bikin kalap.

Sebagai bahan renungan sedikit bagi kita yang doyan ngritik, yang pengen mengkritik sebagai wujud kasih sayang,  pembalasan, kebelaguan atau yang merasa kurang nyaman dengan sesuatu keadaan dan  ingin mencoba memberi wejangan (wejang jahe)..

Sedikit masukan sebelum mengkritik.

Baca dan cerna dulu berkali-kali hal-hal yang ngerasa ngeganjel dan perlu di kritik itu. Kadang-kadang, apa yang kita perkirakan belum tentu sejelek kenyataan.

Kedua sebelum mengkritik tanyakan dulu, baik-baik maksud seungguhnya

Ketiga jika seseorang bener-bener pantas untuk di kritisi  maka benarkanlah  dan beritahulah dengan cara yang benar pula…

Pakailah bahasa yang santun dan halus. G akan ada ruginya kok berhalus-halus kata dan bersantun-santun ria. Bukankah Rasullullah tidak pernah mengajarkan kita bersikap kasar dan menyakiti? bukankah Rasulullah sebagai suri tauladan bagi kita adalah seseorang yang sangat halus dan santun bahasa serta sikapnya?

Sikap yang baik, serta  laku yang halus itu akan menunjukkan siapa kita. Yang halus seperti ini saja, belum tentu setiap hati mampu menerimanya, apalagi yang tidak ??? Jangan sampai  nasihatmu menjadi badai salju yang justru malah semakin  membekukan hati orang tersebut. Jika itu terjadi bukannya tak mungkin lain kali dia tidak akan mau mendengar dan tidak mempedulikan nasihatmu hingga dia tak mampu lagi melihat yang benar dan yang salah.Padahal bisa saja orang yang sedang kamu kritik sedang mengalami masa pancaroba mecari kebenaran.

Jadikanlah lisan seperti air sejuk..seperti oase  seperti tetesan pelapuk batu.

Cobalah kita belajar dari setandan pisang
Dalam satu tandan pisang, tak semua buahnya matang secara serentak. Ada diantaranya yang masih berwarna hijau tua. Apa yang dilakukan petani padanya yang masih muda? Dia tidak banyak kata, cukup dengan menyimpannya kembali menunggu hingga matang semua.

Pisang yang telah matang dan pisang yang terlambat matang, bukankah rasanya tetap sama? sama-sama berasa pisang, bukan pisang rasa troberi atau pisang rasa coklat (itu mah udah rekayasa euy..!) Begitu juga kita.
Tak mungkin semuanya sama. Ada kalanya menurut ukuran kita, suatu hal yang menyangkut kebenaran terasa gampang untuk dirubah. Adakalanya menurut kita suatu  masalah dapat diselesaikan hanya dengan beberapa menit saja. Tapi bagi orang lain belum tentu. Dan ada kalanya pula, kita mengkritik tapi hal yang kita kritisi salah “pula” ckckck
Coba dengar…
Dia manusia biasa yang tak akan sempurna dia butuh waktu dan berproses menyelesaikannya. Kritiklah dengan cara yang santun, kalimat yang baik.
Diterima atau tidak do’akanlah dia agar mampu memahamkan dirinya jika dia salah. Do’akanlah dia dalam diam, agar selalu dalam bimbingan Allah sebagai dzat yang menaungi. Siapakah kita yang sudah merasa benar dalam menasihati itu?? mampukah kau membawakan hidayah tanpa izinnya??Hidayah itu hanya milik Allah
Pada akhirnya jika telah dipahamkan, dirimu dan dirinya nanti akan memperoleh kebenaran yang sama. bahkan mungkin bisa lebih baik dari kita. Dalam hidup ini tak seorang pun sempurna pada bingkai kemampuannya. Karena di antara kita memang tidak sama dan serupa, kita dilahirkan berbeda, hidup di lingkungan berbeda, pada kondisi yang berbeda dan segala hal yang berbeda.
Yang mesti diingat adalah bahwa setiap orang memiliki kesamaan keinginan dan memiliki hak yang sama dalam mendapat kesempatan, betapapun itu harus dipergilirkan dalam keadaan yang beragam.
Karenanya, percuma saja memperdebatkan suatu ketidak samaan, perbedaan, dan ketidak cocokan dengan orang lain, karena kita tak akan mendapat titik temu. Sungguh tak ada yang sempurna di antara kita,
Untuk yang sedang sakit hatinya oleh sebuah kritikan.
Coba juga dengarkan ini.. janganlah kita memperturutkan hati hawa dan nafsu bila yang dinasihatinya memanglah sebuah kebenaran..
Berkhuznudzonlah, dan nikmati sebuah “masukan” sebagai sebuah penambahan. Jangan rendah diri, jangan berkecil hati,jangan patah arang. Didunia ini kita sama-sama dalam pencarian, yang namanya mencari engkau pastilah butuh petunjuk dan ditunjukkan. Karna bila tidak minta petunjuk dan ditunjukkan. Hati kita akan serupa karang, pencarian kita tak ubahnya seperti jalan-jalan yang tanpa tujuan (pemulung dijalan aja punya tujuan coba..)
Berbesar hatilah..berbenahlah… dia yang sedang mencela kekurangan dan ketidak tahuanmu, menjudge mu sesungguhnya adalah orang yang tak ingin kamu dalam lingkaran kesalahan, maka ditunjukinya jalan. Dia adalah orang yang selalu memikirkan dan memperhatikan mu, maka diberinya kritikan. Dia adalah orang baik yang penuh kasih sayang kepadamu dia adalah orang yang paling “MENCITAIMU” karna dia tak ingin engkau larut dalam kesalahan. Dia meraih mu dari jurang kehancuran.. Do’akanlah dia agar lebih baik lagi sebagai saudara seiman. Kita semua sama-sama berproses panjang untuk menjadi lebih baik

Hadist

Jawaban Cerdas Ali bin Abi Thalib Radhiyallahu ‘Anhu

Suatu ketika,seorang lelaki datang menjumpai Ali, lalu memujinya
setinggi langit. Ali tahu, orang ini bukan menyukainya, namun hanya ingin menjilat dan mencari muka saja.

Beliau berkata, “Sesungguhnya aku tidak sehebat apa yang engkau katakan, tapi pasti, aku lebih baik dari penilaian yang ada dalam hatimu.”

Karena beliau tahu, bahwa orang itu memujinya, namun dalam hati amat membencinya”.

Dari Buku Humor Salafi, Ustadz Abu Umar Basyir

Terkadang Keshalihan Itu Tertular Dari Teman

“Buhaim Al-Ajali pernah datang kepada saya suatu hari dan berkata: ‘Apakah engkau mengenal seseorang yang engkau sukai dari tetangga atau sanak saudaramu, yang berkeinginan melaksanakan haji untuk dapat menemaniku?’

Aku (perawi) Menjawab: ‘Ada’
Aku segera menemui seorang lelaki yang shalih dan baik akhlaknya, lalu keduanya aku pertemukan. Mereka pun b

ersepakat untuk pergi bersama. Kemudian Buhaim pulang menemui istrinya.
Beberapa saat kemudian (sebelum pergi), si lelaki (yang akan menemani Buhaim) menemuiku dan berkata: ‘Hai kamu, aku senang kalau kamu menjauhkan sahabatmu itu dariku, agar mencari teman seperjalanan yang lain saja.’

Aku bertanya: ‘Kenapa rupanya? Sungguh aku tidak melihat orang yang setara dengannya dalam kebagusan akhlak dan perangai. Aku pernah berlayar bersamanya, dan yang kulihat darinya hanyalah kebaikan.’

Lelaki itu menjawab: ‘Celaka kamu, setahuku ia orang yang banyak menangis, hampir tak pernah berhenti. Hal itu akan menyusahkan kami sepanjang perjalanan.’

Aku menanggapi: ‘Engkaulah yang celaka, terkadang tangisan itu datang tidak lain hanyalah dari mengingat Alloh. Yakni, hati seseorang itu melembut, sehingga ia menangis.’

Lelaki itu menimpali: ‘Memang benar. Tetapi kudengar, terkadang ia menangis kelewatan sekali.’

Aku berkata: ‘Temanilah dirinya.’
Ia berkata: ‘Aku akan meminta pertimbangan dari Allah.’

Tepat pada hari keberangkatan mereka berdua, mereka menyiapkan unta dan memberinya pelana. Tiba-tiba Buhaim duduk di bawah pohon sambil meletakkan tangannya di bawah janggutnya dan air mata pun berlinang di kedua belah pipinya, lalu turun ke janggutnya, dan akhirnya menetes ke dadanya, sampai-sampai demi Allah kulihat air matanya membasahi tanah.

Lelaki itu berkata: ‘Lihat, belum apa-apa sahabatmu itu sudah mulai (menangis), orang seperti itu aku tidak bisa menyertainya.’

‘Temani saja dirinya.’, pintaku.’Bisa jadi dia teringat keluarganya dan kala ia berpisah dengan mereka, sehingga ia bersedih.’

Namun ternyata Buhaim mendengar pembicaraan kami dan menanggapi: ‘Bukan begitu persoalannya. Aku semata-mata hanya teringat dengan perjalanan ke akhirat .’

Maka suara beliau pun melengking dengan tangisan.

Lelaki itu berkomentar: ‘Demi Allah, janganlah ini menjadi awal permusuhan dan kebencian dirimu terhadapku, tak ada hubungan antara aku dengan Buhaim. Hanya saja, ada baiknya engkau mempertemukan antara Buhaim dengan Dawud Ath-Tha’i dan Sallam Abu Al-Ahwash agar mereka saling membuat yang lainnya menangis hingga mereka puas, atau meninggal dunia bersama-sama.’

Aku terus saja membujuknya sambil berkata (pada diriku), ‘Ah, mudah-mudahan ini menjadi perjalananmu yang terbaik.’

Perawi menyebutkan, Lelaki itu adalah seorang yang gemar melakukan perjalanan panjang untuk berhaji, dan seorang lelaki yang shalih, namun di samping itu ia juga pedagang kaya raya yang rajin bekerja, bukan orang yang mudah bersedih dan menangis.

Perawi menyebutkan, lelaki itu menceritakan,”sekali inilah hal itu terjadi pada diriku, dan mudah-mudahan bermanfaat.”

Perawi menyebutkan, Buhaim tidak mengetahui sedikit pun tentang hal itu. Kalau ia mengetahui sedikit saja, niscaya ia tak pergi bersama lelaki itu.

Maka mereka pun berangkat berdua hingga melaksanakan haji dan pulang kembali. Masing-masing dari keduanya sampai tidak menyadari bahwa mereka memiliki saudara lain selain sahabat yang menemani mereka.

Setelah tiba, aku menyalami lelaki tetanggaku itu.

Ia pun berkata: ‘Semoga Allah memberimu pahala kebajikan atas saranmu kepadaku. Tak kusangka, bahwa diantara manusia sekarang ini ada juga yang seperti Abu Bakar. Demi Allah, ia membiayai kebutuhan kami, sementara ia orang miskin, aku justru orang kaya. Beliau sudi melayani diriku, padahal beliau sudah tua dan lemah sedangkan aku masih muda dan kuat. Beliau juga memasak untukku, padahal beliau berpuasa sementara aku tidak.’

Aku(perawi) bertanya: ‘Bagaimana soal tangisan panjangnya yang tidak engkau sukai?’

Lelaki itu menjawab: ‘Akhirnya aku terbiasa dengan tangisan itu. Demi Allah, hatiku merasa senang, sampai-sampai aku turut menangis bersamanya, sehingga orang-orang yang bersama kami merasa terganggu. Namun kemudian demi Allah, mereka pun akhirnya terbiasa. Mereka juga turut menangis, bila kami berdua menangis. Sebagian mereka bertanya kepada yang lain,’kenapa orang itu (Buhaim) lebih mudah menangis daripada kita, padahal jalan hidup kita dan dia sama?’ Mereka pun akhirnya menangis, sebagaimana kami juga menangis.’

Perawi melanjutkan, ‘Kemudian aku keluar dari rumah lelaki itu untuk menemui Buhaim.

Aku bertanya kepadanya setelah terlebih dahulu memberi salam: ‘bagaimana tentang teman berpergianmu?’

Beliau menjawab: ‘Sungguh teman yang terbaik. Ia banyak berdzikir, banyak membaca dan mempelajari Al-Quran, mudah menangis dan mudah memaafkan kesalahan orang lain. Semoga Allah memberimu pahala kebajikan atas saranmu’.”

(Shifat Ash-Shafwah, 3/179-182.)

Artikel: alqiyamah.wordpress. com

KISAH SEORANG KOKI YANG BIJAK

Seorang anak mengeluh pada ayahnya mengenai kehidupannya dan menanyakan mengapa hidup ini terasa begitu berat baginya. Ia tidak tahu bagaimana menghadapinya dan hampir menyerah. Ia sudah lelah untuk berjuang.

Sepertinya setiap kali satu masalah selesai, timbul masalah baru.

Ayahnya, seorang koki, membawanya ke dapur. Ia mengisi 3 panci dengan air dan menaruhnya di atas api.

Setelah air di panci-panci tersebut mendidih. Ia menaruh wortel di dalam panci pertama, telur di panci kedua dan ia menaruh kopi bubuk di panci terakhir. Ia membiarkannya mendidih tanpa berkata-kata. Si anak membungkam dan menunggu dengan tidak sabar, memikirkan apa yang sedang dikerjakan sang ayah. Setelah 20 menit, sang ayah mematikan api.

Ia menyisihkan wortel dan menaruhnya di mangkuk, mengangkat telur dan meletakkannya di mangkuk yang lain, dan menuangkan kopi di mangkuk lainnya.

Lalu ia bertanya kepada anaknya, “Apa yang kau lihat, nak?” “Wortel, telur, dan kopi” jawab si anak. Ayahnya mengajaknya mendekat dan memintanya merasakan wortel itu. Ia melakukannya dan merasakan bahwa wortel itu terasa lunak. Ayahnya lalu memintanya mengambil telur dan memecahkannya. Setelah membuang kulitnya, ia mendapati sebuah telur rebus yang mengeras.

Terakhir, ayahnya memintanya untuk mencicipi kopi. Ia tersenyum ketika mencicipi kopi dengan aromanya yang khas. Setelah itu, si anak bertanya, “Apa arti semua ini, Ayah?”

Ayahnya menerangkan bahwa ketiganya telah menghadapi ‘kesulitan’ yang sama, melalui proses perebusan, tetapi masing-masing menunjukkan reaksi yang berbeda.

Wortel sebelum direbus kuat, keras dan sukar dipatahkan. Tetapi setelah direbus, wortel menjadi lembut dan lunak. Telur sebelumnya mudah pecah. Cangkang tipisnya melindungi isinya yang berupa cairan. Tetapi setelah direbus, isinya menjadi keras. Bubuk kopi mengalami perubahan yang unik. Setelah berada di dalam rebusan air, bubuk kopi merubah air tersebut.

“Kamu termasuk yang mana?,” tanya ayahnya. “Ketika kesulitan mendatangimu, bagaimana kau menghadapinya? Apakah kamu wortel, telur atau kopi?” Bagaimana dengan kamu? Apakah kamu adalah wortel yang kelihatannya keras, tapi dengan adanya penderitaan dan kesulitan, kamu menyerah, menjadi lunak dan kehilangan kekuatanmu.”

“Apakah kamu adalah telur, yang awalnya memiliki hati lembut? Dengan jiwa yang dinamis, namun setelah adanya kematian, patah hati, perceraian atau pemecatan maka hatimu menjadi keras dan kaku. Dari luar kelihatan sama, tetapi apakah kamu menjadi pahit dan keras dengan jiwa dan hati yang kaku?.”

“Ataukah kamu adalah bubuk kopi? Bubuk kopi merubah air panas, sesuatu yang menimbulkan kesakitan, untuk mencapai rasanya yang maksimal pada suhu 100 derajat Celcius. Ketika air mencapai suhu terpanas, kopi terasa semakin nikmat.”

“Jika kamu seperti bubuk kopi, ketika keadaan menjadi semakin buruk, kamu akan menjadi semakin baik dan membuat keadaan di sekitarmu juga membaik.”

“Ada raksasa dalam setiap orang dan tidak ada sesuatupun yang mampu menahan raksasa itu kecuali raksasa itu menahan dirinya sendiri”

Sumber : http://hutantropis.com/akan-jadi-seperti-apakah-kamu via http://gizanherbal.wordpress.com/2011/07/27/koki-yang-bijak/

Nikmat hidup dengan Syukur

302805_3367925492015_1014918381_n

Untuk masakan Jepang, kita tahu bahwa ikan salmon akan lebih enak untuk dinikmati jika ikan tersebut masih dalam keadaan hidup saat hendak diolah untukdisajikan. Jauh lebih nikmat dibandingkan dengan ikan salmon yang sudah diawetkan dengan es.

Itu sebabnya para nelayan selalumemasukkan salmon tangkapannya ke suatu kolam buatan agar dalam perjalananmenuju daratan salmon-salmon
tersebut tetap hidu
p. Meski demikian pada kenyataannya banyak salmon yang mati dikolam buatan tersebut.

Bagaimana cara mereka menyiasatinya..?Para nelayan itu memasukkan seekor hiu kecil dikolam tersebut. Ajaib..!! Hiu kecil tersebut “memaksa” salmon-salmon ituterus bergerak agar Jangan, sampai dimangsa. Akibatnya jumlah salmon yang mati justru menjadi sangat sedikit..!!

Diam membuat kita mati..! Bergerak membuat kita hidup…!!Apa yang membuat kita diam? Saat tidak ada masalah dalam hidup dan saat kita berada dalam zona nyaman. Situasi sepertiini kerap membuat kita terlena… Begitu terlenanya sehingga kita tidak sadar bahwa kita telah mati..! Ironis, bukan..?

Apa yang membuat kita bergerak..?Masalah.., Pergumulan.. dan Tekanan Hidup..Saat masalah datang secara otomatis naluri kita membuat kita bergerak aktif dan berusaha mengatasi semua pergumulanhidup itu.

Tidak hanya itu, kita menjadi kreatif, dan potensi diri kitapun menjadi berkembangluar biasa.Ingatlah bahwa kita akan bisa belajar banyak dalam hidup ini bukan pada saat keadaan nyaman, tapi justru pada saat kitamenghadapi badai hidup.Itu sebabnya syukurilah “hiu kecil” yang terus memaksa kita untuk bergerak dan tetap survive.

Masalah hidup adalah baik, karena itulah yang membuat kita terus bergerak.Tetap semangat dalam menjalani hidup.

https://www.facebook.com/NandoEL.Ashlad

YAHUDI KELAK AKAN DIBUNUH DI AKHIR ZAMAN

215799_10152288137050195_1589108803_n

عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّه عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ لا تَقُومُ السَّاعَةُ

حَتَّى يُقَاتِلَ الْمُسْلِمُونَ الْيَهُودَ فَيَقْتُلُهُمُ الْمُسْلِمُونَ حَتَّى يَخْتَبِئَ

الْيَهُودِيُّمِنْ وَرَاءِ الْحَجَرِ وَالشَّجَرِ فَيَقُولُ الْحَجَرُ أَوِ الشَّجَرُ يَا مُسْلِمُ يَا عَبْدَ اللَّهِ هَذَايَهُودِيٌّ خَلْفِي فَتَعَالَ فَاقْتُلْهُ إِلَّا الْغَرْقَدَ فَإِنَّهُ مِنْ شَجَرِ الْيَهُودِ (مسلم)Artinya: Dari Abu Hurairah bahwa Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wasallam bersabda:” Tidak akan terjadi kiamat sehingga kaum muslimin berperang dengan yahudi. Maka kaum muslimin membunuh mereka sampai ada seorang yahudi bersembunyi dibelakang batu-batuan dan pohon-pohonan. Dan berkatalah batu dan pohon:”wahai muslim wahai hamba Allah ini yahudi dibelakangku, kemari dan bunuhlah ia kecuali pohon Gorqhod karena ia adalah pohon Yahudi” (HR Muslim)

Ini adalah salah satu hadits diantara banyak hadits yang menceritakan permusuhan dan peperangan yang terjadi antara umat Islam dengan Yahudi. Lebih dari itu Al-Qur’an sudah sedemikian jelas menceritakan permusuhan abadi antara bangsa Yahudi dengan umat Islam. Allah Ta’ala berfirman:

Sesungguhnya kamu dapati orang-orang yang paling keras permusuhannya terhadap orang-orang yang beriman ialah orang-orang Yahudi dan orang-orang musyrik”(QS Al-Maa-idah 82).

PELAJARAN HADITS

1. Kewajiban mengimani seluruh perkara ghaib yang diberitakan Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam, dan tidak sah keimanan seseorang sehingga dia mengimaninya.

2. Mukjizat bagi Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam , karena banyak berita ghaib yang beliau sampaikan pada masa beliau Shallallahu ‘alaihi wa sallam masih hidup betul-betul terjadi sesuai kenyataan. Dan yang belum terjadi, pasti akan terjadi, karena berita yang beliau sampaikan adalah haq, berasal dari wahyu Allah Subhanahu wa Ta’ala. Ini juga menunjukkan kenabian beliau Shallallahu ‘alaihi wa sallam adalah benar.

3. Mengimani tentang hari kiamat dan pasti akan datang.

4. Kiamat diawali dengan tanda-tanda. Kiamat tidak akan terjadi, sehingga seluruh tandanya telah muncul menurut kehendak dan hikmah Allah.

5. Peperangan orang-orang mukmin dengan orang-orang kafir akan tetap ada sampai menjelang datangnya kiamat.

6. Berita gembira tentang puncak kemenangan yang akan diraih kaum Muslimin, yaitu akan memerangi dan membunuh orang-orang Yahudi pada saat menjelang tibanya kiamat. Adapun waktunya, yaitu saat kemunculan Dajjal dan turunnya Nabi ‘Isa Alaihissallam.

7. Hadits ini merupakan berita, bahwa pasukan Yahudi saat itu berada di bawah komando Dajjal. Dan kaum Muslimin bersama Nabi ‘Isa Alaihissallam , hingga Dajjal berhasil dibunuh oleh Nabi ‘Isa Alaihissallam.

8. Persenjataan perang saat itu adalah sebagaimana persenjataan masa lalu, seperti pedang, tombak dan semisalnya.

9. Mengimani bahwa Allah Maha kuasa untuk menjadikan benda-benda mati berbicara atas kehendakNya.

10. Pohon gharqad adalah pohon Yahudi yang akan dijadikan tempat persembunyian mereka saat terdesak oleh kaum Muslimin.

Gharqad, Pohon Yahudi?
http://almanhaj.or.id/content/2968/slash/0/gharqad-pohon-yahudi/

Masuk Neraka Gara-Gara Sesaji untuk Lalat

Kisah berikut menunjukkan bagaimana bahaya kesyirikan. Namun di sekitar kita menganggap sebagai hal yang biasa dan ringan. Padahal sesaji walau dengan lalat saja bisa menyebabkan seseorang masuk neraka, apalagi jika dengan tumbal kepala kerbau dan sesaji lainnya. Karena kejahilan membuat kita tidak paham akan bahayanya syirik.

عن طارق بن شهاب، أن رسول الله صلى الله عليه وسلم قال: (دخل الجنة رجل في ذباب، ودخل النار رجل في ذباب) قالوا: وكيف ذلك يا رسول الله؟! قال: (مر رجلان على قوم لهم صنم لا يجوزه أحد حتى يقرب له شيئاً، فقالوا لأحدهما قرب قال: ليس عندي شيء أقرب قالوا له: قرب ولو ذباباً، فقرب ذباباً، فخلوا سبيله، فدخل النار، وقالوا للآخر: قرب، فقال: ما كنت لأقرب لأحد شيئاً دون الله عز وجل، فضربوا عنقه فدخل الجنة)

Dari Thariq bin Syihab, (beliau menceritakan) bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam pernah bersabda, “Ada seorang lelaki yang masuk surga gara-gara seekor lalat dan ada pula lelaki lain yang masuk neraka gara-gara lalat.” Mereka (para sahabat) bertanya, “Bagaimana hal itu bisa terjadi wahai Rasulullah?” Beliau menjawab, “Ada dua orang lelaki yang melewati suatu kaum yang memiliki berhala. Tidak ada seorangpun yang diperbolehkan melewati daerah itu melainkan dia harus berkorban (memberikan sesaji)  sesuatu untuk berhala tersebut. Mereka pun mengatakan kepada salah satu di antara dua lelaki itu, “Berkorbanlah.” Ia pun menjawab, “Aku tidak punya apa-apa untuk dikorbankan.” Mereka mengatakan, “Berkorbanlah, walaupun hanya dengan seekor lalat.” Ia pun berkorban dengan seekor lalat, sehingga mereka pun memperbolehkan dia untuk lewat dan meneruskan perjalanan. Karena sebab itulah, ia masuk neraka. Mereka juga memerintahkan kepada orang yang satunya, “Berkorbanlah.” Ia menjawab, “Tidak pantas bagiku berkorban untuk sesuatu selain Allah ‘azza wa jalla.” Akhirnya, mereka pun memenggal lehernya. Karena itulah, ia masuk surga.”

Status hadits:

Dikeluarkan oleh Ahmad dalam Az Zuhud hal. 15, dari Thoriq bin Syihab dari Salman Al Farisi radhiyallahu ‘anhu. Hadits tersebut dikeluarkan pula oleh Abu Nu’aim dalam Al Hilyah 1: 203, Ibnu Abi Syaibah dalam mushonnafnya 6: 477, 33028. Hadits ini mauquf shahih, hanya sampai sahabat. Lihat tahqiq Syaikh ‘Abdul Qodir Al Arnauth terhadap Kitab Tauhid karya Syaikh Muhammad bin Abdul Wahab hal. 49, terbitan Darus Salam.

Al Hadizh mengatakan bahwa jika Thoriq bertemu Nabi -shallallahu ‘alaihi wa sallam-, maka ia adalah sahabat. Kalau tidak terbukti ia mendengar dari Nabi, maka riwayatnya adalah mursal shohabiy dan seperti itu maqbul atau diterima menurut pendapat yang rojih (terkuat). Ibnu Hibban menegaskan bahwa Thoriq wafat tahun 38 H. Lihat Fathul Majid, hal. 161, terbitan Darul Ifta’.

Beberapa faedah dari hadits di atas:

1- Hadits di atas menunjukkan bahaya syirik walau pada sesuatu yang dinilai kecil atau remeh.

2- Jika sesaji dengan lalat saja bisa menyebabkan masuk neraka, bagaimana lagi dengan unta, atau berqurban berkorban untuk mayit atau selain itu?!

3- Hadits tersebut menjadi pelajaran bahwa sesaji yang biasa dilakukan oleh sebagian orang awam di negeri kita adalah suatu kesyirikan.

4- Syirik menyebabkan pelakunya masuk neraka sedangkan tauhid mengantarkan pada surga.

5- Seseorang bisa saja terjerumus dalam kesyirikan sedangkan ia tidak mengetahui bahwa perbuatan tersebut syirik yang menyebabkan dia terjerumus dalam neraka nantinya.

6- Hadits tersebut juga menunjukkan bahayanya dosa walau dianggap sesuatu yang kecil. Anas radhiyallahu ‘anhu mengatakan, “Kalian mengamalkan suatu amalan yang disangka ringan, namun kami yang hidup di masa Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam menganggapnya sebagai suatu petaka yang amat besar.”

7- Orang tersebut masuk neraka karena amalan yang awalnya tidak ia maksudkan, ia hanya ingin lepas dari kejahatan kaum yang memiliki berhala tersebut.

8- Seorang muslim yang melakukan kesyirikan, batallah islamnya dan menyebabkan ia masuk neraka karena laki-laki yang diceritakan dalam hadits di atas adalah muslim. Makanya di dalam hadits disebutkan, “Seseorang masuk neraka karena lalat”. Ini berarti sebelumnya dia adalah muslim.

9- Yang jadi patokan adalah amalan hati, walau secara lahiriyah amalan yang dilakukan terlihat ringan atau sepele.

10- Hadits ini menunjukkan bahwa sembelihan, penyajian tumbal, sesaji adalah ibadah. Jika ada yang memalingkan ibadah tersebut pada selain Allah, maka ia terjerumus dalam syirik akbar yang mengeluarkan dari Islam.

11- Hadits di atas menunjukkan keutamaan, keagungan dan besarnya balasan tauhid.

12- Hadits tersebut juga menunjukkan keutamaan sabar di atas kebenaran dan ketauhidan.

Wallahul muwaffiq.

 

Referensi:

Al Mulakhosh fii Syarh Kitabit Tauhid, Syaikh Dr. Sholih bin Fauzan bin ‘Abdillah Al Fauzan, terbitan Darul ‘Ashimah, cetakan pertama, 1422 H.

Fathul Majid Syarh Kitabit Tauhid, Syaikh ‘Abdurrahman bin Hasan Alu Syaikh, terbitan Darul Ifta’, cetakan ketujuh, 1431 H.

Hasyiyah Kitab At Tauhid, Syaikh ‘Abdurrahman bin Muhammad bin Qosim, cetakan keenam, tahun 1432 H