Apa Arti kehidupan ini??

Apa Arti kehidupan ini??

Mungkin kita sering bertanya-tanya apa arti kehidupan ini?? untuk apa kitA dihidupkan? teringat kejadian-kejadian dimasa lalu..ketika salah seorang teman saya ditolak cintanya serasa. dunia ini sangatlah hampa. Sesaat dia buta, untuk apa dan kemana akan diarahkannya hidupnya. Ada juga.. rekan … Baca lebih lanjut

Idul Fitri 1433/ 19 Agust 2012

Hari ini.. saya begitu sibuk..sangat sibuk. Bahkan kesibukan ini sudah dimulai sejak kemarin malam  hingga subuh tadi bahkan masih berlangsung saat saya bisa menyelesaikan tulisan kecil ini.

Sebuah kesibukan yang menyita waktu, tapi harus saya akui cukup menyenangkan. Saking senangnya saya bisa melupakan rasa pegal,linu, pusing dan gatal-gatal akibat camFak yg lagi ngtren di kamfung saya (g tau niyh.. gimana ceritanya bisa ikut-ikutan kena tren yang ini) tapi apapun itu Alhamdulillah ‘ala kulli hal

Pokoknya hanya ada  kesibukan mempersiapkan hidangan untuk menjamu para tamu dan sanak saudara yang bakal berkunjung kerumah antik peninggalan Oma tercinta ini.

Keluarga saya keluarga yang sangat besar tapi terpisah-pisah jarak dan kesibukan masing-masing. Jadi wajarlah bila momen lebaran adalah sesuatu hal yang istimewa.  Segalanya dipersiapkan sedemikian rupa agar apik, berkesan sekaligus “Harus camFak sempurna” hehe

Selepas sholat ied di musholla, biasanya saya dan keluarga besar di Pagaruyung mengadakan makan bersama. Semua wanita membawa “dulang” sebuah piring besar dari kaleng beisi beragam lauk pauk dan kue-kuean khas yang disusun sedemikian rupa lalu ditutup dengan anyaman segitiga  berbungkus kain-kain cantik. Ada juga yang membawa rantang besar-besar berisi lauk pauk segala rupa untuk saling berbagi lalu dinikmati bersama bersuka cita dalam suasana lebaran. Tak terkecuali keluarga kami yang hari ini membawa “Asam Padeh Ikan Padang” (kalau disin ikan laut dibilang ikan Padang, maklumlah kampung saya di daerah “darek” yang  jauuh dari lautan. Karna kota Padang dekat dengan laut jadi semua ikan laut namanya ikan Padang  ^^) ada macam-macam rendang daging, rendang baluik,rendang telor basah, rendang telor kering dan ayam kecap.

Setelah sesi santap bersama selesai, dengan dikomando uda (kakak sepupu laki-laki saya ), semua yang kecil-kecil segera bergembira  melihat aba-aba di tangan uda. Amplop coklat dengan ketebalan yang cukup bikin mata kecil mereka menjadi ijo semua. Keponakan dan anak-anak kecil tersenyum melompat-lompat kesenangan bahkan ada yang langsung menyudahi makan minum mereka tanpa peduli sendawa-sendawa kecil dan sisa cabe yang masih nangkring diujung-ujung bibir agak kedalam ^_^ \/

Dengan senyuman manis saling berbisik dan berbaris riang, mereka semua sedang mengira-ngira,  berapa ya pencapaian  THR yang bisa dikumpulkan tahun ini hehe…Ga dimana-mana siyh, ada yang malu-malu tapi mau, ada yang diem terpaku, ada yang ketawa-tawa  bahkan ada juga yang nangis meraung waktu ditanya namanya dan diajak ngobrol sebentar oleh uda. Tapi toh akhirnya senyum juga setelah disodorin hehe..senyum yang paling manis, senyum yang tidak dibuat-buat senyum tanda matre ^^’ Biasanya bila si THR sudah ditangan dan bersalaman, dengan segera dan tak sabar mereka akan menyambangi uda-uda saya yang lainnya teruus.. teruuss.. sampai ke mama saya, ke tante, om..terus..terus.. sampai disaya (eh pura-pura g liat aaahhh qiqiqi ^,^) dan teruss.. teruus ke uni saya..dan trussss teruus.. teruss.. sampai mereka rasa cukup! (maksudnya bukan duitnya yang cukup, tapi,,, tapi merasa udah mantengin semua hingga g ada lagi sumber THR) barulah mereka pulang dengan suka cita.

Saat semua bubar, tinggallah kami warawiri nyari-nyari rantang serta dulang yang dibawa dari rumah masing-masing.

Sampai dirumah tidak begitu saja saya bisa beristrahat dan bersantai ria, masih ada kesibukan memotong-motong  buah untuk ehm, suguhan ANDALAN saya “Sop Buah” tentunya mbak Sist mas Bro >_< kali ini saya g sendiri, ada fans berat sop buah saya yang ikut-ikutan membantu dengan antusias, (sambil comot-comot dikitt) semua dilakukan dengan suka cita sambil bergurau dengan adik-adik yang juga siSbuk ngebantu mamah menyiapkan hidangan andalannya. Biasanya setelah Dzuhur di lebaran pertama, kami selalui kedatangan tamu besar. Sssttt… bukan karena badannya besar kaya saya lo.. tapi rombongannya dalam jumlah besar. Kurang lebih 30 orang, anak cucu dari adik laki-laki oma. Tamu “Ter-meriah” tiap tahun.

Setelah semua beres.. dan mulai beranjak keruang tamu untuk menanti kedatangan mereka, kami kedatangan sepasang tamu istimewa. Sepasang suami istri yang sudah renta. Suaminya buta, sehingga harus menggunakan tongkat sambil dituntun sang istri. Sementara sang istri sudah bongkok dan payah berjalan. Baru sampai diberanda saja, mama sudah menyambut mereka suka cita dalam senyum sumringah. Kami bertanya-tanya dalam hati “Siapakah gerangan sepasang tamu tersebut?” Rasa-rasanya belum pernah bertamu kemari. Kami memberi salam pada mereka lalu menyuguhkan hidangan. Kedua tamu istimewa kami menolak makan dengan halus, tapi mereka tentunya tidak dapat menolak sop buah andalan saya 😀 (halahh..) mereka bercerita panjang lebar dengan mama. Tak lupa mama memperkenalkan kami satu persatu pada tamunya. Kami hanya bisa menyimak obrolan mereka, hm.. kata-katanya dalem… banyak sekali petuah yang diberikan. Terasa bener setiap yang diceriatakan dan diucapnya.

Bahkan sampai mereka pulang saya masih termangu memikirkan kata-kata mereka. Mereka berdua mendoakan kami satu persatu, entah kenapa hati seketika menjadi haru. Terlebih ketika mereka mendo’akan tentang saya.. Aamiin Ya Rabb..

Sebagai oleh-oleh buat mereka mama memberikan beberapa obat herbal yang biasa diminum untuk memelihara kesehatan dan menambah stamina mereka berdua. Mereka menolak apa-apa yang diberikan oleh mama.. Karna bagi mereka niat terawal hanyalah ingin bersilaturahim.. bukan yang lain. Namun mama tetap dengan keukeh menggunakan  segala daya dan upaya berusaha meyakinkan  mereka bahwa semua yang diberikan itu sebagai bentuk persaudaraan.

Setelah kepergian kedua tamu istimewa tersebut, barulah kami berani bertanya tentang mereka sama mama, siapakah mereka? Kata mama.. beliau (tamu yang laki-laki) dulunya adalah malin dikampung kami, dulu.. setiap hari Raya Idul Fitri dia akan pergi dari rumah kerumah untuk berdo’a. nanti, tiap-tiap rumah yang di datanginya akan menyuguhkannya makanan dan minuman serta sedikit uang tanda terimakasih. Hanya beliau satu-satunya malin yang tidak pernah mau menerima pemberian tersebut. Karena buat dia semua adalah bentuk silaturahmi bukan untuk ajang mencari uang tambahan dengan memanfaatkan moment lebaran seperti yang lazim dilakukan. cuma sekarang semenjak beliau buta, kegiatan mendo’a dari rumah kerumah sudah digantikan oleh orang lain.

Istrinya adalah seseorang wanita dari keluarga yang cukup berada. Tapi hebatnya beliau ini type perempuan setia. Rela meninggalkan segala kemewahan dan ikut bersusah-susah bersama suaminya. Sayang. suaminya tidak mampu memberikan keturunan. Meski begitu sang istri tidak pernah menuntut, mengeluh atau meninggalkan suaminya, walau apapun yang dikatakan orang bahkan bujuk rayu keluarga  yang memintanya meninggalkan suaminya  untuk dinikahkan dengan laki-laki lain yang lebih mapan dan subur dia tetap tak bergeming. Bahkan hingga sang suami akhirnya menjadi buta pun sang istri  tetap setia menjadi mata untuk suaminya. Beliau (tamu yang perempuan) adalah seorang wanita yang sabar. Dia tetap setia, sangat setia.. bahkan sampai dia renta dan bongkok seperti sekarang.

Setiap hari.. mereka berdua keladang atau kesawah-sawah orang,  mengerjakan apa saja yang bisa mereka kerjakan untuk mendapatkan sedikit upah. Apa saja, apa saja yang disuruh orang. Bahkan bila tak ada yang dapat dikerjakan disawah dan ladang, mereka menjelajahi hutan mencari apa saja yang bisa mereka jual untuk ditukar dengan sedikit uang sebagai penunjang kehidupan.

Istrinyalah yang selama bertahun-tahun menuntunnya kemana-mana, menyuapi dan memelihara sang suami bahkan beliaulah yang turut serta menemani suami mencari nafkah. Tak pernah beliau meninggalkan suaminya sendirian. Baginya apapun kondisi sang suami dia tetap suaminya. Orang yang pantas jadi junjungan dan dia taati. Baginya suaminya adalah orang  yang selama ini mencukupi nafkahnya yang patut dipatuhi, apapun kondisi dan keadaan serta kekurangannya yang ada. Walaupun sebenarnya mereka berdua yang bersama-sama berusaha dalam mencari nafkah tetap dimata sang istri dirinya bukanlah apa-apa, suaminyalah yang berjasa semnetara dirinya hanyalah teman yang menjadi mata agar sang suami mudah dalam mencari rezki. Subhanallah…

Benar-benar setia, padahalkan.. mereka pergi berdua. kalau beliau type yang egois bisa ajakan.. sang istri bilang bahwa penghasilan yang didapat selama ini hasil dari kerja keras mereka berdua, atau bahkan dari hasil keringatnya sendiri. Bisa saja.. Tapi dia bena-benar menjunjung suaminya. Bahkan sejak bertahun-tahun yang lalu saat mengetahui suaminya tak mampu memberikannya keturunan.. Toh bertahun-tahun yang lalu bisa saja dia mendengarkan kata-kata keluarganya lantas pergi dan menikah dengan orang lain. Atau  bisa saja saat suaminya buta. Bisa saja.. bisa saja.. tapi dia tetap setia.. bahkan ditengah keibaan hati sang suami yang semakin sensitif karna ketuaannya dialah yang menjadi satu-satunya pelipur lara. Dia jugalah yang mengingatkan untuk senantiasa bersyukur apapun yang terjadi.. Salut.. salut..

Saya banyak menemui lelaki-lelaki hebat diluar sana tapi bukan seorang pria yang ditengah segala kekuarangannya dia tetap gigih berusaha sekuat yang dia bisa dalam keistiqomahan  dan dalam kelapangan hati menerima segala cobaan seperti ini, dia tidak menangis, beliau tidak mengemis.. justru smakin kuatt dalam keterbatasan penglihatannya.  Dengan bulir-bulir keringatnya dia membahagiakan istrinya dengan segenggaman tangannya yang dia bisa. Beliau Laki-laki tua yang istimewa.. salut.. 

Saya banyak, menemukan perempuan hebat diluar sana..

Saya belajar sesuatu yang istimewa dari perepuan tua yang sederhana.. belajar tentang kesetiaan dan belajar berkorban, tentang kesabaran, arti cinta karena Allah dan penghargaan. Apa yang ada dalam benaknya, saya tidak tau.. tapi buat saya.. beliau orang yang luar biasa. Bahkan kemiskinan tidak bisa memisahkan ikatan sakral pernikahan mereka. Semoga Allah Azza Wa Jalla melimpahkan kesehatan dan kekuatan hati pada mereka, Sepenggal tulisan untuk orang-orang berhati lapang yang saya temui tadi siang…

Gambar

Alhamdulillah ‘Ala Kulli Hal 3 Desember 2012

 

SONY DSC

Selepas magrib tadi, kami sekeluarga bersantap malam bersama. Hanya ada saya, mama, papa, dan adik laki-laki saya. kedua adik perempuan saya tidak dirumah. yang satu sudah balik ke daerah atas, tinggal bersama keluarga adik laki-laki mama yang lebih dekat dari kampusnya. Dan yang satu masih berkutat berburu pasien untuk ujian

 Makan malam terasa nikmat, dengan menu ikan panggang, keluarga kami sangat suka ikan tapi hanya ikan laut. Ketika menikmati suapan terakhir tiba-tiba saja gusi saya merasakan ngilu yang amat sangat. Tulang dari si ikan laut ternyata nyangkut di gusi dipertengahan dua gigi. Awalnya saya tak panik, hanya berusaha menyenggol-nyenggol situlang dengan lidah berharap situlang bisa keluar. Bukannya keluar si tulang malah semakin dalam menusuk gusi.

Rasa sakiitnya mulai membuat saya meringis. lalu saya mencoba mejangkau dengan tangan. Usaha saya sia-sia bahkan si tulang jadi semakin dalam. Terakhir saya hanya bisa melampai-lambaikan tangan ke kamera eh.. ke mama, karena sudah tak mampu lagi untuk bicara. Yang namanya orang tua, melihat anak gadisnya tiba-tiba nyengar-nyengir lalu kelabakan sambil makan tentulah jaid khawatir. beliau berusaha bertanya “kenapa?” “apa?” dan sebisa mungkin saya menjelaskan dengan bahasa kalbu beuhhh… (bahsa isyarat ding!) ^,^

Agak mangkel juga si, Bukannya cepat-cepat memberikan pertolongan pertama ehh… malah tingkah saya yang blingsatan diketawain -_-” Fuih.. terlalu…!!

Semakin lama sakitnya menjadi-jadi berdenyut-denyut. Padahal saya sudah berusaha menarik si tulang yang membandel ini. MasyaAllah… sakitnya ruarrr biasa. Sangat berharap Adik saya Nhessya tiba-tiba ada didepan pintu, lalu mengeluarkan seluruh alat-alatnya buat mencabut situlang ini. suntikan,pisau bedah,gergaji,oksigen, keteter (lah buat apa??) aggghhh pokoknya apa aja dehh yang bisa membuat situlang ini segera enyahhhh!!  -_-” sayangnya itu tidak terjadi, karna beliau masih diperjalanan.

Mamam menyuruh saya bersabar dan berdo’a. Bahkan ada pula yang menyarankan pada saya untuk membaca Al Fatihah, sambil memutar-mutar piring tempat si ikan tadi nangkring sambil mengingat-ngingat nama leluhur saya. Hah..apa-apaan itu! Dengan tegas dalam bahasa gagu saya menolak “Enghak..aha huhungannya haliiiee… Hirik itu! hirik..!” Waduwww pokoknya ngedenger saran itu rasanya smakin rupa-rupa dehhhh… mana sakit,mesti ngomong, kwesell! Cuma bisa istigfar dalam hati.

Ingat saja jaman dulu, dulu..duluuuu sekali ketika kelas satu SD dan Almarhummah Oma masih hidup hal serupa juga pernah terjadi. Ketika sedang bersantap malam dengan menu ikan sungai bikinan mama yang dipancing sendiri oleh papa. Waktu menelan suapan terakhir Hap…satu tulang bersarang ditenggorokan.

Sebagai anak kecil yang masih imut dan manja saya teriak. Tentunya bala bantuan segera datang (g kaya sekarang -_-” malah diketawain beuuhhh….)

Sudah bergelas- gelas air saya habiskan, sudah hampir 5 biji pisang, nasi panas yang di kepal, agar-agar dan macam-macam cara sudah dilakukan sampai saya muntah beberapa kali karna disumpel dengan bermacam makanan itu.

Bahkan kedua orang tua saya berjibaku untuk menarik si tulang itu sendiri dari tenggorokan saya. Tetap tak berhasil, saya sudah lemas karna kebanyakan muntah bahkan oma saya pun jadi ikut-ikutan nangisi (lah??)

malam itu juga, saya dilarikan kesebuah klinik THT milik salah seorang kerabat dekat kami.  Disana Atuk (panggilan saya kepada dokter tsb) memarahi kedua orang tua saya, karna tidak segera membawa saya kesana, dan marah karena ikanya juga.

Malam itu sebuah alat menakutkan dimasukkan kedalam tenggorokan dan ternyata memang tulang yang nyangkut itu cukup panjang.

Sejak saat itu hampir setahun saya g berani makan ikan. Pun papa saya g berani bawa pulang ikan air tawar, Apalagi semenjak itu ikan air tawar saya paling anti (ini di prakarsai oleh si mama) Baru setelahnya karena dibujuk-bujuk bahwa “ikan laut durinya g jahat” saya berani makan ikan lagi dan menjadi pecinta ikan laut sejati.

Si tulang membuat saya malu dihari pertama saya kembali kesekolah, Saya ditanya guru “putri kemarin sakit apa nak ko pake surat dokter?”

“Sakit tulang ikan bu guru” -_-” tertawalah seisi kelas

Hadeuhhh nama sakitnya g eksklusif banget siyh makanya diketawain. (maklum masih imut kala itu)

Dan hari ini terualng sudah.. dilokasi yang berbeda.

Saya mengambil kesimpulan bahwa ternyata “ikan laut pun durinya sama jahatnya” (siapa suruh makan duri)

Gusi ini semakin nyu-nyutan dibuatnya. mau marah entah pada siapa, “Haruskan saya  ngambek lagi sama semua ikan? Haruskan saya marah sama rumput yang bergoyang? Tetapi semua diam..Tetapi semua bisu.. Tinggal aku sendiri tertegun menahan sakit” (kalau Ebit denger saya pasti dijitak _PletakkK_)

Fuihhh…. Alhamdulillah ‘ala kulli hal -_-”

Kembali saya bercermin sambil nganga dan menyenter kedalam mulut. Tiba-tiba keajaiban terjadi,  situlang dengan mudahnya tercabut dengan sedikit gesekan tusgi dan pinset. 😀 Alhamdulillah legaaaa

Subhanallah… ternyata kalimat “Alhamdulillah ‘ala kulli hal ini begitu berarti dikala menahan derita, bahkan sakiit yang hanya karna tertusuk. Kenapa g dari tadi keingetan??? Kenapa g waktu si tulang pertama kali nyungsep???Kenapa baru di akhir episode baru keingetan baca Alhamdulillah ‘ala kulli halnya??Kenapa kenapa kenapa???

Tiba-tiba saya berasa mirip polisi India yang  selalu telat di akhir cerita

-_- manusia adalah tempatnya khilaf salah dan lupa..

MasyaAllah.. telah ditetapkan olehNya Tulang itu bersarang digusi ini,

untuk memberi pelajaran pada saya tentang berharganya nikmat Allah, bahkan bisa langsung di ambil kembali olehNya hanya dengan sepotong tulang. dan atas izinnya cuma dengen tusuk gigi sebatang kara bersama pinset yang g ada bagus-bagusnya begitu mudah tulang itu terlepas, dan dengan jahilnya saya baru inget untuk mensyukurinya..?? Astagfirullahaladzim

Mungkin Allah Azza Wa Jall sedang mengingatkan saya tentang sesuatu hal yang sangat berharga tentang perkara orang-orang mukmin.

“Sungguh menakjubkan perkara seorang mukmin. Seluruh perkaranya baik baginya. Tidak ada hal seperti ini kecuali hanya pada orang mukmin. Jika dia mendapatkan kesenangan lantas dia bersyukur, maka hal itu baik baginya. Dan jika dia ditimpa kesulitan lantas dia bersabar, maka hal itu baik baginya.” (HR. Muslim, no. 2999)

Saya terkesan tiap kali mengingatnya, betapa Allah telah menegur dengan cara yang begitu unik. Ya, Ilmu harus di ikat dengan tulisan, agar a semua yang terjadi bisa di ambil ibrohnya bagi diri saya pribadi  dan bagi semua pembaca Allah Humma Amiin.